Posted on

Kantin STT Jakarta

Tepat pukul 10.05 WIB, saya berada di kantin STT Jakarta. Setelah menunaikan tugas belajar TAA hari ini, saya beranjak menuju kantin dan duduk dikursi bagian pojok kanan kantin dengan bersandarkan pada sebuah meja besar berwarna coklat.

Teringat sekilas bahwa teologi bukanlah sekadar berbicara dan melihat sekitar tetapi mencoba meraba sekitar. Dalam tulisan Perichoresis of the World Religions diuraikan tantangan lain dalam dirkursus Teologi Agama-Agama masih berputar2 mencari common ground, baik Monoteisme, Politeisme, Atheisme maupun Panteisme. Tidak terlepas agama Kristen dengan identitasnya doktrin Trinitas perlu bersikap tanpa harus mengabaikan keberadaan Agama yang lain.

Saya ingat dalam tulisan tersebut digunakan istilah Perichoresis. Istilah yang merangkum gerak dan konsep teologi trinitarian serta mengajak pembaca memahami bahwa Trinitas memiliki peran yang besar untuk memahami setiap Teologi Agama-Agama. Perichoresis berasal dari dua kata latin Peri – mengelilingi dan Chorein – tarian atau berisi. Dengan kata lain Perichoresis adalah bentuk berteologi yang memandang secara utuh keunikan dari setiap doktrin teologi Agama-Agama dalam partikularitasnya dan terbuka untuk mengkomunikasikan kebenaran ‘faith’ dari Teologi Agama-Agama. Hemat penulis, Perichoresis menekankan mutual interpretasi daripada paradoksal antar unsur Trinitas yang terkait.

Isu mencari common ground yang dilakukan para tokoh agama, Paul Knitter mengusulkan konsep soteriologi. Ilmu yang berbicara tentang konsep keselamatan dan menekankan pesan kesejahteraan manusia dan membawa pembebasan untuk orang miskin dan tertindas. Usul ini sangat umum dan tidak berkembang. James Fredericks memberi usul dan kritik kepada Knitter dari perspektif teologi komparatif bahwa adanya pembedaan komitmen setiap Agama-Agama. Hal ini terlihat jelas dengan sistem kasta yang digunakan seorang Hindu atas kitab Weda berbanding terbalik dengan teologi pembebasan yang menekankan keadilan sosial. Di sini Fredericks mengusulkan berlatih teologi komparatif ala Trinitarian. Teologi yang bukan sekadar belajar tentang agama-agama lain, tetapi juga untuk belajar dari keyakinan dan praktek agama-agama lain. Fredericks membangun teologi Agama-agama ala Clooney namun secara substansi berbeda.

Di sisi lain, S. Mark Heim seorang tokoh Injil menguatkan pemikiran Fredericks dengan konsep adanya partikularitas yang perlu dihargai dari setiap Teologi Agama-Agama. Pencarian common ground yang selama ini digagas kaum plurlis tidak berarti berusaha menemukan klaim kebenaran tertinggi pada satu konsep keselamatan yang mutlak dari setiap agama-agama, karena menurutnya Allah ada dalam persekutuan tiga pribadi Ilahi dalam berbagai dimensi. Di sinilah letak usul yang memungkinkan setiap orang beragama mengakui keterbatasan mengatasi Allah dan saling menghormati identitas yang partikular dari setiap Teologi Agama-Agama. Heim berangkat dari hipotesis bahwa agama-agama memiliki teologi dan praktek yang berbeda tetapi bertujuan untuk mencapai sesuatu yang nyata dan berbeda secara substantif (Ars Disputandi 2003, 1).

“Nyata” di sini mengacu pada dialektika interpersonal dan personal. Interpersonal dalam ‘kekosongan’ dan ‘imanan’, sedangkan personal dalam kesinambungan dan keterkaitan – kesatuan yang bereda yakni pada sang Allah, Kristus dan Roh. Kata kekosongan dapat ditemukan pada konsepsi O2 dalam tubuh manusia yang mengalir tanpa dapat diketahui secara ontologis sumber pertama ‘ada’ dan imanen dalam tubuh tanpa diketahui secara pasti namun dapat dirasakan kehadirannya. Keterasaan ini menjadi sangat penting memahami bahwa keunikah teologi komparatif dan teologi Trinitarian dapat dirujuk pada berteologi Agama-Agama dalam keterbatasan dan kesadaran.

Berdasarkan dua pemikiran di atas, penulis Perichoresis of the World Religions mengusulkan teologi yang secara konsisten mampu memandang keberadaan agama-agama lain secara utuh tanpa mengabaikan identitas agama yang dianut yang dikenal Teologi Komparatif ala Trinitarian. Hemat penulis jelas terkait dengan konsep cosmotheandri ala R. Panikkar dan filsafat proses Alfred North Whitehead yang dimodifikasi untuk menguatkan konsep trinitarian dalam tataran peran Tuhan dengan dunia. Allah yang menciptakan ruang yang terbuka bagi setiap manusia dalam keputusan pilihan namun terbatas menentukan pilihan. Di sinilah peran pribadi ilahi – Roh -memberi makna dalam setiap relasi interpersonal dan personal. Hal yang senada dijelaskan dalam Polydoxy Theology of multiplicity and relation. Martin Buber mengatakan dari perspektif Teologi Yudaisme dalam terang Trinitas mengatakan teologi Allah sebagai hubungan dan keterkaitan realitas tanah, kontingensi, dan relasi. Dengan kata lain, terdapat pembelajaran tradisi agama-agama yang dapat ditemukan dalam agama yang dianut, namun dimaknai berakar dalam kehidupan Ilahi (Catherine dan Schneider, 254-255). Dalam kesendirian penulis menyimpulkan bagaimana menjadi seorang percaya yang eksemplaris dan parsipatoris di kantin STT Jakarta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s