Posted on

Patahkan kaki!

Alkisah adalah seorang penggembala dengan puluhan, mungkin ratusan ekor domba gembalaannya. Kesehariannya diwarnai oleh rutinitas menggembalakan domba, dan memberi mereka makan, membawanya ke padang rumput.

Dari sekian banyak domba peliharaannya, adalah seekor domba yang nakal, yang polahnya berbeda dan lebih sulit diatur ketimbang domba-domba lainnya. Domba yang nakal ini selalu memisahkan diri dari teman-temannya. Ketika domba-domba yang lain makan rumput secara berkelompok, dia akan keluar dari kelompoknya dan pergi ke tempat yang dia suka, atau ketika gembalanya sedang menggiring domba-dombanya ke padang rumput, si domba nakal akan lari sendirian ke arah yang berlawanan, menjauh dari kelompoknya.

Reaksi sang gembala biasanya adalah selalu mengejar domba nakal ini, menangkapnya dan menempatkannya kembali ke tengah-tengah kelompoknya. Dan hal ini selalu dia lakukan berulang-ulang kali. Jadi, tiap kali si domba nakal tadi memisahkan diri, si gembala akan mengejar dan menggendongnya untuk mengembalikannya ke dalam kelompoknya.

Gembala itu memang penyabar menyikapi kenakalan si domba yang satu itu. Tapi setelah kesekian kalinya si domba nakal itu terus berulah, tak urung penat dan pusing juga sang gembala dibuatnya. Sebagai seorang yang taat dan beriman, ia mengadu pada Tuhan dalam doanya.

“Tuhan…, Engkau adalah seorang Gembala yang baik… Dalam Mazmur, Daud pun menyebutMu sebagai Gembala yang membawa domba-domba-Mu ke padang rumput yang hijau. Tuhan, Engkau Allah yang mengetahui segala sesuatu, kalau Engkau ada pada posisiku, apa yang akan Engkau lakukan dalam menghadapi domba yang nakal ini?”

“Patahkan kakinya!,” kata Tuhan.
kaki
“Haaa…?! Tuhan..! Patahkan kakinya…?! (sambil mikir, kok Tuhan tega amat). Dia pun kembali bertanya ke Tuhan dengan pertanyaan yang sama.Tapi, kembali jawaban Tuhan, “Patahkan kakinya!”

Menyadari bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu, dia mengikuti apa yang diperintahkanNya. Maka, esok harinya, ketika sedang menggembalakan domba, si domba nakal melakukan kebiasaannya dan si gembala mengangkatnya, sambil berkata dalam hati, “Tuhan…, aku sungguh nggak tega, tapi karena Engkau yang menyuruh aku untuk patahkan kakinya, maka aku akan patahkan kakinya…”

Si domba nakal merintih kesakitan dan si gembala tidak tahan mendengarnya. Hatinya sakit sekali mendengar rintihan itu. Namun dia sangat mengasihi domba itu, dan dia patuh pada perintah Tuhan.

Setelah dia mematahkan kaki si domba nakal, kaki tersebut dia balut. Setiap hari dia menggendong domba nakal itu karena dia tidak bisa berjalan. Si domba itupun dirawatya. Domba itu makan rumput di samping gembalanya karena bila dia makan rumput dengan teman-temannya besar kemungkinan dia akan terinjak. Bila sedang berjalan-jalan di padang rumput, si gembala akan menggendongnya.

Inilah yang terjadi, setiap kali domba nakal ini haus, dia akan menjilat keringat si gembala yang menggendongnya. Kepalanya selalu bersandar pada dada si gembala dan menggosokkan kepalanya di bahu gembala bila sedang berjalan-jalan di padang rumput. Selama kakinya patah, domba nakal ini sangat bersikap manis dan hampir setiap saat, dia menjilat keringat gembalanya. Dia tidak berdaya, sangat bergantung pada gembalanya.

Akhirnya, setelah sekian minggu, kakinya pun sembuh. Si gembala membuka balutan pembebat kakinya dan melepaskannya untuk bermain-main dengan domba-domba lain. Namun, hal inilah yang terjadi: dia tidak berlari ke kelompoknya, tapi terus merapatkan dirinya antara kaki gembalanya. Akibatnya si gembala mengangkatnya (dan si domba nakal masih terus menerus menjilat keringat si gembala!) dan harus meletakkan dia di kelompoknya. Tapi si domba nakal selalu berlari mengikuti dan merapatkan dirinya kembali ke gembalanya!

Si gembala berulang kali melakukan hal ini. Tapi, berulang kali pula si domba nakal kembali kepadanya. Si gembala bingung dengan perilaku domba nakal ini, dan dalam kebingungannya Tuhan berkata kepadanya, “Itulah yang tidak dimengerti oleh umat-Ku… Ketika Aku membiarkan mereka berbeban berat atau terluka atau Aku ijinkan sesuatu menimpa mereka… itu adalah untuk membawa mereka mendekat kepadaKu. Aku melakukan itu untuk membuat mereka mengerti betapa berharganya mereka di hatiKu. Betapa Aku ingin mereka hidup bergantung hanya padaKu, dekat dan intim denganKu. Tapi seringkali mereka semakin menjauh ketika hal-hal itu terjadi…” Sang gembala akhirnya mengerti, mengapa Tuhan menyuruh dia mematahkan kaki si domba nakal itu.

Disadur dari http://hikmat-tuhan.com/?menu=ilustrasi&task=preview&id=34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s