Posted on

Maukah kita menjadi Mikha-Mikha Masa Kini?

mik

Mikha 5:1-5

Renungan ini pernah dipubilikasi di warta jemaat HKBP Jatisampurna, pada masa minggu Advent IV, tanggal  23 Desember 2012.

Dalam seluruh Alkitab dan sepanjang sejarah manusia, kita dapat melihat bahwa kekerasan perang dan penindas merupakan penyebab paling mendasar dari kemiskinan dan pembunuhan. Jadi gencarnya perang imperialis kuno sering diungkapkan sebagai ungkapan normatif dari maskulinitas dan ditafsirkan “damai” sebagai semacam ruang kosong tetapi diperlukan untuk persiapan perang lanjutan. Cara pandang tersebut menjadi juga terjadi pada konteks sejarah nabi Mikha, yakni pada zaman pengepungan Asyur terhadap Yerusalem di bawah pimpinan Sanherib pada tahun 701 SM. Mikha menyadari bahwa susesor Raja Daud, raja Hizkia tampaknya tidak memiliki harapan dan menunjukkan ketidakmampuan dalam membendung kebobrokan moral bangsa, selain mencari jalan keluar militer dengan memberontak melawan Asyur. Karena itu Nabi Mikha menatap Mesias yang akan datang sebagai pengharapan akan penghukuman dan janji Allah. Nabi Mikha membandingkan perhatiannya kepada Yerusalem yang kuat, kosmopolit, dan sangat jahat kepada Betlehem yang kecil, sederhana, dan takut akan Allah.

Jika bercermin pada pergumulan Nabi Mikha, tepatlah jika kita melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, misalnya pemberitaan koran tempo hari Selasa, 04 Desember 2012, PT Lapindo Brantas unit Bunut, mendapat penghargaan sebagai perusahaan peraih proper hijau oleh Kementerian Lingkungan Hidup. pada Senin malam, 3 Desember 2012. Jika dilihat dari sejarahnya PT tersebut telah menewaskan beberapa orang bahkan menghancurkan tempat tinggal masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Apakah pemerintah telah menjalankan tugasnya secara bijaksana?

Sikap di atas juga dirasakan Nabi Mikha, orang Moresyet yang berasal dari suatu kota kecil di daerah perbukitan di Yehuda-Samaria. Ia melihat Raja Hizkia tidak memiliki sikap yang bijaksana pada rakyatnya khususnya orang miskin di desa Moresyet, Samaria, Yudea. Hak warga negara ditelanjangi, mulai dari perampasan ladang orang Moresyet dan mengusir perempuan-perempuan dari rumah mereka untuk mendirikan tempat penjagaan (2:2, 4), menanggalkan mantel dari para penghutang. Keserakahan dan tindakan kasar, bahkan penipuan menjadi sumber kemiskinan orang Morasyet (6:11). Keadaan ini ternyata tidak dihuruikan, melainkan membiarkan ekses-ekses dan mengambil keuntungan untuk para penguasa (3:5-8). Melihat keadaan saat itu Mikha tidak tinggal diam, melainkan menyuarakan pengharapan akan Mesias dan janji-Nya, bahwa keadilan sosial merupakan pengharapan bangsa. Kedatangan Mesias yang membebaskan akan menjadi kesudahan bagi Yerusalem dan Samaria.

Peringatan Nabi Mikha tersebut mengawali nubuatan kedatangan Mesias di Bethelem Efrata (5:1-4), bahwa tradisi Mesianik dari keturunan utama Daud bukan pada ibu kota Yerusalem, melainkan kota kecil yang bernama Betlehem, yang identis dengan Efrata, salah satu desa di utara Yerusalem dekat Rama. Tempat ini menyimpan historitas sebagai tempat kudus Israel, mulai tempat Rahel meninggal (Yer. 31:15); nama sebuah suku, keturunan Efrat, istri kedua Kaleb (1 Taw. 2:18-19), dan tempat kelahiran ayah Daud dan tempat perjanjian Allah pada keluarga Abraham (7:20; Yes 51:9).

Pengharapan akan Mesias terdapat pada peran ibu dari Raja Daud. Kelahiran sosok raja bijaksana sebagaimana Daud dijanjikan dari seorang perawan. Inilah janji dan misteri kedatangan Mesias yang akan digenapi melalui kelahiran Yesus. Raja yang menghadirkan damai sejahtera. Raja yang mengembalakan dan memimpin untuk membebaskan Israel dari penjajahan Asyur.

Jika bercermin pada uraian di atas, interaksi Mikha terhadap konteksnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang pribadi yang memiliki pandangan tajam terhadap kenyataan masa kini dan berakar pada sejak dahulu kala (5:1). Meskipun ia berorientasi pada Yerusalem dan warga Daud (4-14-5:4), ia juga memiliki kepedulian terhadap Kerajaan Israel Utara atau Samaria (1:2-7; 6:16). Selain itu, di masa minggu Advent ke 4 ini, kita diingatkan kembali menjadi seorang Kristen yang peka terhadap keadaan sekitar dan bertindak nyata menolak peperangan dan kekerasan yang berdampak pada kematian hati nurani. Akhirnya kita bisa mengajakan berhati-hatinya dengan hatimu.

Referensi

Francis I Anderson, Freedman, David Noel. 2000. Micah. Anchor Bible 24E. New York: Doubleday. 413-425

Dr. Cristoph Barth & Marie. 2010. Teologi Perjanjian Lama 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 333-334.

Pdt. S.M. Siahaan. 2008. Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 25-27

http://www.tempo.co/read/news/2012/12/04/206445750/Lapindo-Brantas-Dapat-Penghargaan-Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s