Posted on

Jantungku – Elisabet

284042_258196260857395_2054080_n

Aku terjatuh dalam keadaan yang mungkin akan menjadi pengalaman berarti. Kemudian aku kembali berjalan tertatah hingga akhirnya aku mampu berdiri. Pengalaman ini telah merengut kekuatan yang selama ini dipendam, namun juga memenuhi hasrat kuat untuk berlari. Jantungku mulai berdetak lambat, kemudian berhenti sejenak. Ia menunjukkan bahwa kekuatanku pun mulai melemah.

Aku masih di sini dan merasakan detak jantung itu, namun aku telah mati dalam alunan kehidupan yang selalu mengodaku, namun mampu ku salami dan batasi. Aku ingin berhenti, namun aku masih peduli. Aku tidak ingin terjatuh lagi. Aku ingin ia selalu hidup menemani langkah, irama, dan nada kehidupanku.

Aku masih ingin ia menemani ku bukan karena aku saja, melainkan juga karena dirinya. Ia telah membuatku mampu merasakan kekuatan arus cinta yang selalu marasuki hati dan pikiranku. Aku membutuhkannya, melebihi diriku sendiri. Melalui dirinya aku mengenal cinta yang tidak akan mati, cinta positif, cinta yang akan selalu mewarnai kehidupan kami dan pelayanan kami. Itu karena harapan kami!

Mungkin aku bisa dan mampu hidup tanpanya, tapi aku tidak ingin hidup tanpanya. Ia selalu menyapaku dibangunnya, dan selalu mengatakan “rindu,” telah membuktikan ia telah memiliki bagian diriku didalam hatinya, demikian juga denganku. Aku tidak mau lagi melepaskannya, karena aku ingin hidup bersamanya, aku membutuhkannya, sebab setengah jantungku hidup dalam dirinya.

Aku menyadari aku tidak mampu membahagiakannya dengan materi yang berlebih, tapi aku percaya mampu membahagiakannya dengan kesederhanaan cinta, kepercayaan, dan harapan kami. Aku akan terus berproses mengenal angin yang selalu menyelubungi kulit tubuh kami hingga nafas ini pun berhenti berdetak seiring jantungku yang melemah.

Jika suatu saat aku ditanyakan: apa yang lebih berharga di dunia ini, ia adalah salah satunya. Ia adalah anugerah terindah yang pernah ku rasakan, ku lihat, dan ku miliki. Dengan harapan bahwa Tuhan memberkati langkah kecil kami di kala aku terjatuh, berjalan, dan berlari. Sampai akhirnya aku menjemputnya memasuki ruang teduh di altah-Nya. Aku membutuhkannya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s